Senin, 25 April 2016

Cara Pemeliharaan Media Cacing Tanah

Pemeliharaan Media Cacing Tanah

Untuk merawat agar cacing tetap sehat harus dilakukan perawatan tempat hidupnya. Media hidup cacing tanah yang berupa campuran bahan-bahan organikharus dirawat setiap harinya supaya tetap bisa digunakan cacing tanah untuk hidup dan berkembang biak, adapun cara pemeliharaannya adalah sebagai berikut:
1.       Menjaga kegemburan
Untuk menjaga kegemburan media cacing tanah, perlu dilakukan pengadukan media secara berkala. Pengadukan ini dilakukan bilamana bagian permukaan media hidup sudah terlihat kering atau mengeras. Selain itu pengadukan media hidup cacing tanah ini bertujuan untuk menjaga agar pasokan oksigen dan sirkulasi udara dalam media tetap terjaga.


2.       Menjaga suhu dan tingkat kelembaban
Kelembaban media hidup cacing tanah harus tetap dijaga dalam keadaan normal agar cacing bisa berkembang biak dengan normal [15-30%]. Jika media kurang lembab maka bisa dilakukan penyemprotan air pada permukaan media dengan menggunakan penyemprotan air. Selain itu dengan cara menghindarkan dari paparan sinar matahari langsung terlalu lama.


3.       Mengganti media
Media dilakukan penggantian saat sekitar 2 mingguan sekali. Sebagian besar media hidup cacing akan terlihat sudah menjadi seperti tanah, warnanya agak hitam, dan lengket dan bagian permukaannya terdapat kokon [telur cacing]. Tujuan penggantian media ini agar cacing tanah tidak kekurangan bahan organic untuk makanan dalam perkembangannya.

Langkah untuk mengambil kascing ini adalah dengan mengambilnya pada permukaan media, dan jika kokon yang terdapat pada kascing maka harus di ambil dan diletakkan pada media yang nantinya akan menetas sebagai bibit cacing baru.

Kamis, 03 Maret 2016

TERNAK CACING TANAH

Jual dan Ternak Cacing Tanah


Bagi yang membutuhkan cacing tanah, atau bibit cacing tanah dalam jumlah besar kami siap melayani anda.

Untuk semua wilayah: Pati, Semarang, Kudus, Rembang, Purwodadi, Blora, Jepara, solo, yogyakarta, jogja, bantul, kendal, ungaran, salatiga, grobogan, klaten, boyolali, sragen, bandung, tuban, jakarta, bogor, surabaya, gersik, sidoarjo, temanggung, magelang, cirebon, dan semua kota


Lihat juga

Jumat, 12 Februari 2016

Syarat Media Pemeliharaan Cacing Tanah

Syarat Media Pemeliharaan Cacing Tanah


Untuk mengoptimalkan produktivitas cacing tanah yang dibudidayakan, maka media pembudidayaan cacing tanah perlu dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai atau hampir sama dengan habitatnya dialam bebas. Agar media bisa seperti habitat tersebut, media pemeliharaan setidaknya harus memenuhi ketentuan sebagai berikut.

a. media harus menggunakan bahan organik berserat yang sudah terfermentasi sempurna, serta tidak mengeluarkan gas dari hasil proses pembusukan yang tidak disukai oleh cacing tanah. waktu yang diperlukan untuk fermentasi berfariasi, tergantung bahan organik yang digunakan, pada umumnya proses fermentasi membutuhkan waktu antara 7-14 hari. bahan yang digunakan biasanya adalah onggok aren, bekas gergrajen, kotoran ternak, jerai, dll.

b. media sebaiknya mempunyai suhu lingkungan antara 15-25 derajat. hal ini bertujuan agar media ternak cacing tanah tersebut bisa mendukung aktivitas metabolisme, pertumbuhan, dan reproduksi cacing tanah.

c. media pemeliharaan harus mempunyai kelembapan (kandungan air) antara 15-30%. semakin tinggi kandungan air dalam media maka kelembapan semakin tinggi pula, apabila kelembapan media pemeliharaan semakin tinggi maka cacing tanah akan terlihat memucat dan kemudian mati. dan sebaliknya jika kelembapan terlalu kering maka cacing akan kekurangan oksigen dan cairan, dan cacing akan kering serta susah untuk makan karena terlalu keras, sehingga cacing mati.

d. media harus mempunyai tingkat keasaman (pH) 6,5-7,2, karena cacing tanah akan bisa bereproduksi dengan baik apabila dalam kondisi lingkungan sedikit asam hingga mendekati netral yaitu antara 6,5-7,2. hal ini disebabkan karena dalam kondisi seperti itu kandungan bahan organik dan unsur hara dalam media dapat dicerna oleh cacing.

e. media pemeliharaan cacing harus kaya bahan organik dan unsur hara, karena bahan organik dan unsur hara tersebut adalah sebagai makanan pokok cacing tanah. sumber bahan organik juga bisa didapatkan dari sampah organik atau serasah daun-daun, sayuran, ampas tahu, serbuk kayu, dan kotoran ternak yang sudah terfermentasi sempurna.

f. media cacing tanah harus gembur, lunak, tidak panas, dan tidak mudah padat supaya mudah terurai atau dicerna cacing. lingkungan yang gembur juga bisa menjaga porositas sarang, menjaga ketersediaan oksogen, dan sirkulasi oksigen di dalam.

g. media harus mempunyai daya serap air yang tinggi sehingga tidak mudah menjadi kering dan kehilangan tingkat kelembapan.

h. media harus steril dari bahan-bahan yang mengganggu pencernaan cacing, bahan-bahan tersebut diantaranya adalah, sabun dan bahan kimia, bahan yang mengeluarkan bau-bau tajan (seperti minyak atsiri, daun mentol, daun kayu putih, daun pinus, daun suren, daun cengkeh, daun dan kulit jeruk, daun kemangi), tanin, garam, gula, dan pestisida.



lihat juga:
cara budidaya cacing tanah
ternak cacing tanah
budidaya cacing tanah
perawatan cacing tanah

Senin, 01 Februari 2016

Nilai Ekoknomis Ternak Cacing Tanah

Nilai Ekoknomis Ternak Cacing Tanah


Budidaya cacing tanah memang hal yang sedikit menjijikkan bagi orang-orang awam, akan tetapi pada dasarnya budidaya cacing tanah ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. banyak manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dari cacing tanah, baik untuk kesehatan, pakan ternak, kesuburan tanah untuk tanaman, dll. Berikut secara ringkas, untuk pertimbangan secara ekonomis, nilai lebih dari budidaya cacing tanah:

a. Usaha ini bisa dijalankan dengan modal yang relatif kecil atau dengan modal pas pasan. Hal ini dikarenakan, tempat pemeliharaannya bisa menggunakan berbagai bahan yang ada, murah harganya, dan mudah didapat. Misalkan, dengan menggunakan bambu-bambu bekas, papan bekas, karung bekas, dsb, dan medianya memakai bekas grajen, onggok aren dll.

b. Sangat cocok untuk wirausahawan pemula atau orang yang baru mencoba-coba menjalankan agribisnis, karena usaha ini bisa dilakukan dengan modal yang relatif kecil dan mempunyai resiko yang sangat rendah.

c. Sistem pemeliharaannya juga relatif mudah, bisa dilakukan oleh siapa saja asal ada kemauan, dan tidak begitu menyita waktu. Cara memelihara cacing tanah bisa dikatakan mudah untuk dipeajari, sehingga mudah untuk ditiru dan dijalankan oleh siapa saja. Selain itu, rutinitas pemeliharaan sehari-harinya tidak begitu menyita waktu, sehingga bisa dijadikan bisnis sambilan yang tetap bisa memberikan pendapatan yang relatif besar.

d. Untuk pakan cacing mudah didapatkan dan harganya relatif murah. Pakan untuk memelihara cacing bisa dengan memanfaatkan limbah organik seperti limbah penggergajian kayu, ampas tahu, serasah atau dedaunan atau sayuran yang membusuk, ataupun kotoran hewan ternak yg sudah terfermentasi.

e. Lebih cepat dipanen dan bisa dipanen berulang ulang, karena masa pemeliharaan cacing tanah memang relatif singkat, yaitu bisa dipanen ketika umur 2,5-3 bulan semenjak bibit diternakkan.
Melihat masa panen yang cukup singkat ini, para pembudidaya cacing tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengambil cacingnya, juga bisa merekayasa supaya dapat melakukan pemanenan berkala sesuai keinginan, bisa setiap hari, beberapa hari, atau kapan saja. Caranya dengan membuat banyak kandang dengan waktu pebibitan yang berbeda beda.

f. Permintaan pasar dan keuntungan yang cukup tinggi dan besar. Harga jual cacing tanah dipasaran memang terbilang fluktuatif. Sekalipun itu tingkat permintaan pasar dikatakan sangat tinggi dan stabil. Di pasar masih sangat terbuka dikarenakan ketersediaan barang di pasaran masih dibawah angka permintaan pasar, terutama dari industri obat dan pakan ternak. Selain itu, Jangkauan pasar sangat luas, baik dari dalam negeri hingga ke luar negeri.

g. Membudidayakan cacing tanah tidak menghasilkan limbah yang berbahaya dan jumlahlimbahnya tidak begitu banyak, akan tetapi malah bermanfaat untuk tanaman, dan bisa dijual untuk pupuk organik tanaman.

Rabu, 27 Januari 2016

Siklus Hidup Dan Sistem Reproduksi Cacing Tanah

Siklus Hidup Dan Sistem Reproduksi Cacing Tanah


Cacing tanah (Lumbricus rubellus), mempunyai kemampuan hidup rata-rata mencapai dua tahun, akan tetapi bisa juga mencapai 1 - 5 tahun. Siklus hidup cacing tanah dimulai dari kokon / semacam telur, cacing muda, cacing dewasa / cacing produktif, dan cacing tua.

Biasanya setelah cacing umur 2-3 bulan dihitung sejak menetas dari kokon, cacing akan mulai menjadi dewasa dan akan siap kawin. Akan tetapi, masa produktif cacing dewasa terjadi pada umur 4-11 bulan, yaitu ketika cacing tanah sudah mempunyai alat perkembang biakan yang disebut dengan Klitelum. Klitelum terlihat seperti cincin inisebenarnya merupakan bagian tubuh yang menebal dan letaknya pada segmen 26-32 dari bagian atas tubuh cacing tanah. Warna Klitelum ini lebih terang dibandingkan warna tubuh lainnya. Klitelum inilah yang akan mengeluarkan protein dan membentuk kokon setelah terjadi proses perkawinan.

Cacing tanah merupakan hewan hermaprodit, yaitu hewan yang memiliki dua kelamin sekaligus, diantaranya kelamin jantan dan kelamin betina. Meskipun demikian, untuk bereproduksi / kawin,bmereka harus melakukan perkawinan silang dengan cacing-cacing lainnya, karena tidak bisa melakukan perkawinan sendiri. Maksudnya, untuk membuahi sel telurnya, seekor cacing tanah memerlukan sperma dari cacing tanah lainnya. Ketika melakukan perkawinan silang, sepasang cacing tanah akan bertukar spermatozoid dengan cara saling meletakkan bagian depannya (anterior) dengan posisi saling berlawanan. Dari hasil perkawinan silang ini akan dihasilkan kokon atau butir telur yang nantinya akan terlepas dari tubuh cacing tanahpada hari ke tujuhatau hari ke sepuluh setelah proses perkawinan, dan telur akan menetas menjadi bibit cacing tanah antara 10-14 hari kemudian.

kokon cacing tanah / telur

Pada saat dewasa, panjang tubuh cacing tanah sekitar 8-14 cm, dan jumlah segmennya antara 85 sampai 140 buah. warna tubuh bagian punggung (Dorsal) coklat merah hingga kemerahan, sedangkan warna tubuh badian perut berwarna krem. Cacing dewasa yang berumur 3 bulan dapat menghasilkan kokon sebanya 3 kokon per minggu. didalam kokon terdapat telur dengan jumlah antara 2 - 20 butir telur, namun rata-rata persentase hidup bibit cacing tanah adalah 2 ekor per kokon.

Senin, 18 Januari 2016

Cara Ternak Cacing

Cara Ternak Cacing


Para sahabat kali ini saya akan berbagi cara tentang bagaimana cara ternak cacing tanah yang simpel dan benar, mari kita simak.

Langkah pertama yang harus dilakukan membuat Kotakan atau bak dari kayu atau pun bambu. Untuk ukuran panjang dan lebarnya tidak ada patokannya, tetapi sesuaikan dengan tempatnya. Semakin lebar dan panjang tempat akan menghasilkan cacing yang banyak juga, jadi luas tempat untuk ternak cacing ini mempengaruhi lama dan jumlah cacing. bahan yang bisa digunakan diantaranya adalah bisa kayu, bambu, semen, kaca dll. Tempat cacing ini lebih baik dibuat bertingkat, agar lebih menghemat lahan untuk melakukan budidaya cacing.
kandang cacing tanah


Langkah kedua adalah membuat habitat atau tempat untuk hidupnya cacing tanah / habitatnya.
bahan yang simple dan mudah untuk diaplikasikannya adalah dengan menggunakan salah satu dari limbah grajen, onggok aren, debog pisang, jerami, sisa baglog jamur yang sudah tidak tumbuh jamurnya. kemudian disiram dengan air dan di diamkan selama kurang lebih dua minggu, untuk proses fermentasi, untuk mempercepat proses fermentasi bisa ditambahkan bakteri atau ditambah tetes tebu. Pastikan kelembapan media berkisar antara 15% sampai 20%, dan pH berkisar antara 6-7.
kemudian langkah berikutnya setelah dua minggu masukkan bibit cacing ke dalam media tersebut, dan dilakukan perawatan.

Langkah ketiga memberikan makan pada cacing. apa makanan untuk cacing ini?? makanan nya sangat mudah untuk ditemukan sobat. Makanan yang biasanya diberikan adala ampas tahu, atau limbah padat dari produksi tahu. selain itu juga bisa diberikan sisa sisa limbah rumah tangga, sayur-sayur bekas, sayur busuk, dan kotoran hewan juga bisa.

langkah keempat adalah saat yang ditunggu tunggu, yaitu Panen. Pemanenan dilakukan setelah berlangsung sekitar 3 bulanan, tapi ya sesuai dengan kondisi dan populasi cacing tersebut. cara memanen cacing bisa dilakukan dengan cara berikut: 

  1. Membalik media hidup dan mengambil cacing
  2. Menggunakan sumber cahaya untuk memancing cacing ke atas atau permukaan
  3. Pemisahan cacing dewasa dan telur cacing perlu dilakukan
  4. Telur cacing ditaruh di media hidup agar menetas lagi selema kurang lebih 2 hingga 3 minggu.
Demikian cara untuk ternak cacing tanah, semoga bermanfaat dan bisa membantu para pemula untuk melakukan bisnis budidaya cacing tanah ini, kemudian dijual untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.


Rabu, 13 Januari 2016

Hukum Jual Beli Cacing Tanah Dalam Perspektif Mazhab Syafi'i

Hukum Jual Beli Cacing Tanah Dalam Perspektif Mazhab Syafi'i

dalam syari'at islam ada beberapa hal yang hukumnya haram untuk diperjual belikan. Syari'at islam mengharamkan jual beli dengan kategori tiga jenis benda yaitu jenis minuman yang merusak akal, Jenis makanan yang merusak watak, tabi'at manusia dan sesuatu, benda-benda yang merusak agama, mengundang fitnah dan musyirik.

Kenapa ketiga hal tersebut diharamkan untuk diperjual belikan? mesti ada sebab dan tujuannya... Pengharaman atau pencegahan ketiga jenis benda tersebut di atas bertujuan untuk menjaga kehormatan akal, hati, dan agama islam.

Kalau begitu, Bagaimanakah dengan hukum jual beli cacing? berdasarkan penelitian, Meskipun belum ditemukannya secara eksplisit dan spesifik dalam literature mazhab Syafi'i tentang kebolehan jual beli cacing, akan tetapi dari dasar-dasar hukum dan argumentasi yang dijumpai literature-literatur mazhab Syafi'i terutama yang berkaitan dengan masalah jual beli, selanjutnya dikaitkan dengan fenomena yang ada dalam jual beli cacing, maka secara implisit bahwa mazhab Syafi'I membolehkan jual beli cacing.

Karena dari segi bendanya, cacing termasuk kelompok binatang yang suci dan bermanfaat, boleh diperjualbelikan. Jual beli cacing merupakan salah satu alternative usaha atau mata pencaharian bagi masyarakat dalam melestarikan kebutuhan hidupnya, guna memelihara kehormatan agama, jiwa, akal, harta dan keturunan.